TfOlGpM9GSG6BUziGUz5TpOpGY==

Di balik senyum lembut dan sor0t mata teduhnya, tersimpan kisah perjuangan yang tak semua orang mampu jalani.

Di balik senyum lembut dan sor0t mata teduhnya, tersimpan kisah perjuangan yang tak semua orang mampu jalani.


TANGERANG//jurnalnasional.id, --Wanita yang akrab dipanggil Ummi Wahida ini bukan hanya dikenal sebagai istri dari almarhum sosok ulam4 bes4r, tetapi juga sebagai perempuan yang memilih jalan pengabdi4n dengan sepenuh hati. Di usia mudanya, saat banyak orang mengejar keny4m4nan hidup, beliau justru menap4ki jalan sunyi: meninggalkan kemapanan tanah kelahir4nnya, demi mendampin9i perjuangan dakwah suami di pelosok Parung, Bogor.

Pernah ada masa beliau merasa hanya seperti “pembantu” di negeri orang. Hari-harinya diisi dengan mencuci, memasak, membersihkan rumah, dan mengurus an4k2. Lelah, sepi, bahkan sempat terlint4s keinginan untuk menyer4h dan kembali ke Singapura. Namun, di titik terend4h itulah, Allah menghadirkan pengu4t hatinya.

Dalam sebuah mimpi di usia 21 tahun, beliau merasa dipertemukan dengan Rasulullah SAW. Dengan hati berget4r beliau menyadari, bukan karena ibadahnya yang ia angg4p luar biasa, melainkan karena usahanya untuk taat dan setia menjalani peran sebagai istri, menemani perjuangan suami tanpa p4mr1h.

Sejak saat itu, langkah hidupnya berubah menjadi jalan peng4bdi4n yang lebih luas. Dari seorang ibu rumah tangga sederhana, beliau tumbvh menjadi sos0k ibu bagi ribuan an4k bangsa. Dari kenyam4n4n hidup di negara maju, beliau memilih hidup sederhana demi satu tujuan: agar an4k2 yang kurang mampu tetap bisa mengeny4m pendidikan.

Hari ini, di pundaknya terpikvl amanah bes4r. Mengelola pesantren dengan 15.000 s4ntri, memperjuangkan pendidikan gratis, dan memastikan setiap an4k yang datang tetap punya harapan akan masa depan. Bahkan setelah ditinggal w4f4t suami tercinta, beliau tetap berdiri tegak — bukan hanya untuk membesarkan tujuh 4n4k k4bdungnya, tetapi juga 15.000 an4k didiknya.

Beliau pernah berkata sederhana, rahasi4 kecantikannya bukan dari salon, tetapi dari sawah, dari kerja ker4s, dari keikhlasan menjalani hidup apa adanya.

Pesannya untuk para perempuan begitu lembut namun dal4m: bahwa rumah tangga dibangun dari kesetiaan, dari saling menjag4 hati, dari niat untuk saling mengu4tkan, bukan saling menj4tvhkan .

Kisah Ummi Wahida mengajarkan kita, bahwa keindahan hidup bukan diukur dari kemew4h4n yang dimiliki, tetapi dari seberapa banyak hati yang kita hangatkan…

Dari seberapa banyak hidup orang lain yang kita bantu…

Dan dari seberapa tulus kita menjalani takdir yang Allah titipkan.

Karena pada akhirnya, manusi4 terb4ik bukan yang hidupnya paling mud4h, tetapi yang paling banyak memberi manf44t bagi sesamanya. 


(Fattah)

Komentar0

Type above and press Enter to search.